cukup besar lantaran

DPP Real Estate Indonesia (REI) mencatat, pada triwulan ketiga 2016, seluruh sektor dan sub-sektor real estate di Indonesia mengalami pertumbuhan yang lambat yaitu di angka 3,7 persen dibandingkan tahun 2015.
Padahal, menurut Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata, potensi pasar sektor properti cukup besar lantaran didukung beberapa faktor.
"Pertama, pertumbuhan penduduk Indonesia cukup signifikan," kata Soelaeman dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (10/8/2017).
Setidaknya, pertumbuhan penduduk saat ini mencapai 1,2 persen atau sekitar tiga juta jiwa setiap tahunnya. Dengan demikian, angka kebutuhan rumah pun akan terus meningkat setiap tahunnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2016, angka kebutuhan rumah atau backlog masih mencapai 11,4 juta unit. Meski pemerintah telah mencanangkan Program Nasional Sejuta Rumah setiap tahun, namun belum pernah tercapai sampai saat ini.
Potensi berikutnya, yaitu diakibatkan ekspansi pembangunan lahan kosong. Baik itu ekspansi daratan ke wilayah sawah, kebun atau hutan, maupun ekspansi ke laut lewat proyek reklamasi.
"Karena penduduknya yang bertambah, maka akan selalu ada ruang untuk diekspansi," ujarnya.
Saat ini, lanjut Soelaeman, yang perlu dilakukan pemerintah yaitu bagaimana meningkatkan daya beli masyarakat. Sehingga, rumah yang telah dibangun pengembang dapat terserap.
Sektor pariwisata di kawasan Bali Utara bakal dikembangkan seperti Nusa Dua di Bali Selatan. Lantas berapa investasi yang dibutuhkan untuk menggarap sektor pariwisata di sana?
Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Abdulbar M Mansoer mengatakan, luas wilayah yang akan dikembangkan nantinya mencapai 600 hektar di Kabupaten Buleleng.
Namun, hingga kini belum dapat diketahui berapa anggaran yang dibutuhkan untuk menyulap kawasan tersebut seperti Nusa Dua.
"Begitu tanah disepakati, baru nanti kita turun bikin studi kelayakan," kata Abdulbar di Nusa Dua, Kamis (17/8/2017).
Sebagai gambaran, Abdulbar membandingkan, anggaran yang diperlukan untuk mengembangkan kawasan wisata Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) seluas 1.175 hektar, dibutuhkan Rp 3,3 triliun.